Friday, July 31, 2009

Saya, Orangtua Saya, Kehidupan

Saya barusan menyadari, bahwa kecenderungan emosi kemarahan bukan
hanya saya yang punya. Kakak lelaki saya dan kakak wanita saya
keduanya sangat sering marah kalau menghadapi tingkah laku
anak-anaknya yang bandel. Melihat mereka marah, seperti melihat cermin
wajah saya..
Hanya kedua orangtua saya saja yang sabar, terlalu sabar malah,
menghadapi kami ketiga anaknya, dan dua orang cucu nya..
Saya ingin belajar dari mereka, belajar bagaimana menghadapi
kehidupan, belajar bagaimana bersikap, belajar bagaimana bisa berumah
tangga dengan tingkat pertengkaran yg sangat minim.. Belajar,
bagaimana tetap bahagia dalam kesederhanaan.. Bagaimana tetap tabah
dan tak mengeluh walaupun sedang dilanda penyakit.. Mereka tak pernah
membiarkan kami tau, bahwa mereka sedang menderita karena suatu hal,
mereka tak mau membuat kami kuatir.. Mereka orangtua kami..
Saya bangga memiliki mereka, dibesarkan mereka, hidup dari kelembutan
tangan-tangan mereka..
Saya merasa terlalu cengeng. Dilanda sedikit penyakit saya mengerang,
dilanda sedikit derita saya menjerit, dilanda sedikit hinaan saya
memaki, dilanda kenyataan hidup saya tak berdaya..
Saya mau bangkit, saya tak mau jadi orang cengeng terus. Saya tak mau
jadi orang emosional.
Saya mau jadi orang bijak, seperti kedua orangtua saya..

--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Thursday, July 30, 2009

Semut dan Manusia

Seekor semut bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, kenapa kau ciptakan kami
seperti ini, tidak memiliki akal, kecil, lemah, diinjak-injak.. Kami
menangis setiap hari, setiap menit, setiap detik, tatkala saudara kami
terinjak mati oleh manusia, terkena racun serangga, terseret di
selokan, diserang serangga lain.. Padahal kami selalu hidup baik,
bersaudara, tidak saling melukai, tanpa rasa membenci. Kami menangis
Tuhan, sebelum kami menjadi sasaran kematian selanjutnya..."
Tuhan menjawab, "Aku menciptakanmu dengan segala kelemahan, dengan
segala penderitaan, dengan segala tangis, lalu kematian
menyelamatkanmu dari semua itu. Sementara itu Aku menciptakan manusia,
dengan segala kekuasaan, kekuatan, pilihan.. Lalu sebagian dari mereka
tergila-gila oleh kuasa, menindas dengan kekuatan, memilih
menyenangkan diri, yg pada akhirnya akan membawa penderitaan baginya.
Aku memberikan mereka tawa, namun mereka memilih tangis, Aku
memberikan mereka cinta, namun mereka memilih benci, Aku memberikan
mereka sahabat, namun mereka memilih musuh.. Taukah kau, wahai semut,
kematian tidak akan menyelamatkan mereka, kecuali mereka memperbaiki
semua itu.. Jadi, manusia yang seperti itu, nasibnya jauh jauh lebih
menderita darimu.."

Teman-teman,
Ketika seseorang melukai kita, kita menangis..
Ketika seorang sahabat meninggalkan kita, kita memusuhi..
Ketika pertemuan menjadi perpisahan, kita menyalahkan..

Tuhan memberi kita tawa, mengapa kita memilih tangis?
Tuhan memberi kita cinta, mengapa kita memilih benci?
Tuhan memberi kita sahabat, mengapa kita memilih musuh?

Dedicated to: Sahabat
"Kau sahabatku, di kehidupan ini, di kehidupan nanti..."

--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Mimpi di Kerajaan Mimpi

Mimpi kemarin malam, membuat sedikit kekhawatiran dalam diri saya..
Doa terucap, meditasi dalam senyap.. Semoga membuat semua makhluk
bahagia, tak lagi mencelakakan satu sama lain..
Semalam saya bermimpi lagi, namun bukan seperti kemarin malam. Semalam
saya bermimpi tentang Kerajaan Mimpi, di mana saya masih menjadi
rakyat, diatur oleh skenario pemegang daulat. Hidup di sana masih ada
kekhawatiran, tapi saya senang bisa melakukan apa yg tak bisa, bahkan
lebih dari yg bisa dilakukan di kehidupan sadar. Sekalipun hanya
beberapa jam, cukup membuat bangun pagi saya terasa lebih segar..
Tunggu dulu, saya sangsi, apakah benar Kerajaan Mimpi itu membuat
segalanya lebih baik, atau lebih buruk? Karena nyata-nyata saat ini
pengertian yg saya tancapkan semalam menjadi hilang, kembali
terbelenggu oleh kemelekatan..
Mungkin kebijaksanaan mampu mengobati semuanya, hingga suatu hari,
saya mampu berjalan tegap, tanpa kehadiran Kerajaan Mimpi dalam tidur
malam saya..
Sabbe satta sukhita hontu..

--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Wednesday, July 29, 2009

Kerajaan Mimpi

Begitu banyak hutang
Tak terbayar dalam kehidupan
Biarlah semua terselesaikan
Dalam kerlipnya bintang-bintang

Begitu banyak cerita
Tak terurai lewat tatapan mata
Marilah berpuas tuliskan kisah
Dalam bayangan bulan perkasa

Terantuk karang kehidupan
Membentuk luka perih tak tertahan
Biar kubasuh segala jeritan
Dalam asuhan sang dewi malam

Aku meringkuk di sini
Laksana dingin menusuk nadi
Namun, tiada seorang kan mengerti
Aku sedang membangun Kerajaan Mimpi!


by Lim Albert
Life Surfer..

Buah Simalakama

Pernahkah teman-teman mendengar tentang istilah buah simalakama? Kali
ini saya akan merangkum cuplikan kalimat yang termasuk dalam buah
simalakama..

"buah simalakama, dimakan ayah yg mati, tidak dimakan ibu yg mati, apa
yg kau lakukan?"
"ibu dan isteri sama-sama tenggelam, manakah yg akan ditolong lebih dulu?"
"sahabat dan kekasih, manakah yg lebih penting dalam hidupmu?"
"jika disuruh mengorbankan nyawa saudaramu demi tuntutan iman, apa yg
kau lakukan?"
"jika menuruti hati nurani, akan mengecewakan dan menyakiti orang
lain; jika tidak menuruti, kita yg akan kecewa dan sakit, manakah yg
kau pilih?"

Nah di atas adalah contoh dari cuplikan buah simalakama, yg bisa saja
dianggap perumpamaan, bisa juga diartikan kejadian konkrit.

Inti kata-kata buah simalakama ada di pengertian kalimat ini: "maju
masuk jurang, mundur dimakan harimau" yg artinya secara umum adalah
apapun yg kamu lakukan, mengandung resiko yg sama..

Nah apakah teman-teman pernah dihadapkan pada situasi seperti ini?
Buah simalakama, dimakan atau tidak? Semua kembali pada kebijakan hati
:)

--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Tuesday, July 28, 2009

TAWA DAN TANGIS

Tertawa..
Kala berpadu dalam jumpa..
Terbahak bahak suka..
Saat bergelak dalam kelakar jenaka...

Tawamu itu Tuan..
Bergema di dinding khayalan..
Gelakmu itu Tuan..
Menjelma di pelosok pikiran...

Menangislah..
Kala kau tertampar ujung gelisah..
Berderailah..
Saat hidup memutarbalikkan wajah...

Tangismu itu Tuan..
Meronta-ronta dalam kecemasan..
Air matamu Tuan..
Basahi keringnya bara kepahitan...

Sadarkah kau Tuan,
Semuanya adalah manipulasi kehidupan..
Tangis dan Tawa datang sesuai perbuatan..
Lalu, kini apa yang sedang kau TANAM?


by Lim Albert
Life Surfer..

Monday, July 27, 2009

Berkacalah Jakarta

Tema postingan kali ini sama dengan judul salah satu karya Iwan Fals,
yg menceritakan tentang Jakarta dan keluh kesahnya...

Kembali mengunjungi Jakarta setelah satu bulan lebih berpisah, membuat
saya makin sadar banyak hal, akan kenikmatan konsumsi (apa apa ada,
tinggal pilihhh), kemudahan menguras rejeki yg belum pasti (inilah
kehebatan kartu kredit), dan kesulitan melembutkan hati (saat
berkendara maunya emosiii terus..).
Kembali menjumpai teman-teman lama di Jakarta, membuat saya sadar
bahwa dengan nyata saya bisa bedakan karakter teman dan "teman". Di
saat bersuka kita sendiri-sendiri, di saat berduka kau telepon hape ku
tanpa henti, meminta solusi, hahaha..
Melihat wajah Jakarta hari ini, membuat saya makin tau, bahwa Jakarta
bukan tempat saya lagi, bukan tempat kaki ini berdiri, bukan tempat
hati ini memuji, bukan tempat masa depan tersusuri...
Biarlah saya menjadi juragan kecil di tempat terpencil, asal hati saya
tidak menjadi degil. Biarlah saya menenun masa depan di kampung asal
jiwa saya tidak menjadi linglung.

Saya bukan tidak bisa mengikuti langkah roda ekonomi mu, Jakarta..
melainkan tidak bisa menyamai langkah perubahan, yang cepat sekali..
Jakarta, Jakarta, berkacalah..

"jangan kau paksakan untuk berlari.. angkuhmu tak peduli luka di
kaki.. jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari... bila luka di
kaki belum terobati.. berkacalah! Jakarta!" (Iwan Fals)


--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Saturday, July 25, 2009

Pantangan dan Pikiran

Ada seorang murid shaolin sedang berjalan di hutan dengan seorang
gurunya. Di tengah perjalanan, ada seorang wanita cantik yang hendak
meneyeberang sungai yang cukup dalam, namun takut karena tidak bisa
berenang dan takut tenggelam. Sang guru lalu menawarkan diri untuk
menggendong wanita tsb menyeberangi sungai. Lalu mereka menyeberangi
sungai dengan muridnya mengikuti di belakang mereka.
Sang murid berkata dalam hati, "Guru yg begitu saya kagumi, ternyata
masih suka wanita. Ia melanggar pantangan shaolin, huhh.."
Sesampai di seberang sungai, sang guru menurunkan wanita itu, lalu ia
dan muridnya melanjutkan perjalanan, seolah tak ada apa-apa. Setelah
beberapa jam berlalu, sang guru tetap bertingkah seolah-olah tak
terjadi apa-apa, ia tak menjelaskan apapun pada muridnya perihal
kejadian tadi. Sang murid yang sepanjang perjalanan masih memikirkan
hal tsb, akhirnya tidak tahan dan berkata pada gurunya, "Guru, aku
sangat menghormati engkau. Karena kau adalah panutanku. Namun kenapa
engkau melanggar pantangan shaolin di depan mataku?"
Sang guru hanya tersenyum "Apa maksudmu? Aku tidak melanggar pantangan apapun."
Sang murid makin emosi melihat gurunya bersikap seperti tak bersalah,
"Engkau tadi menggendong wanita cantik itu ke seberang sungai kan?
Itukan melanggar pantangan!"
Sang guru tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Di mataku ia bukan
wanita cantik. Aku memandang dia sebagai seorang yg butuh pertolongan,
lalu aku menolongnya. Lagipula aku hanya menggendongnya sampai
seberang sungai, hanya beberapa menit. Namun kau membawanya dalam
pikiranmu berjam-jam. Lalu siapa sebenarnya yang melanggar pantangan?"
Sang murid pun memahami dan meminta maaf kepada gurunya.

Teman-teman, kadangkala kita memandang segala masalah hidup sebagai
sesuatu yg teramat berat. Semakin kita pikirkan masalah itu akan
semakin berat. Cobalah kita mengangkat sebilah besi, 1/2 jam mungkin
tidak terasa berat, tapi bagaimana kalau 1/2 hari? Apakah masih terasa
tidak berat?
Pernahkah Anda berpikir, bahwa sebenarnya masalah utama ada di pikiran
Anda, dan di cara Anda berpikir? Seperti kisah di atas..

--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Penyakit dan Sebatang Kayu

Kembali hari ini saya hadirkan sebuah cerita untuk Anda, yg berasaskan
Karma.. "Seperti apa yg kau tanam, itulah buah yg harus kau nikmati"

Ada seorang ibu dr keluarga miskin yg sedang menderita penyakit tak
kunjung sembuh. Dia punya seorang anak laki-laki yg sangat baik dan
berbakti. Segala usaha telah dilakukan si anak untuk menyembuhkan
ibunya. Tabib mengatakan bahwa ibunya sudah tidak ada harapan lagi.
Akhirnya si anak menghadap gurunya di sebuah biara Buddhist. Ia
meminta petunjuk sang Guru bagaimana menyembuhkan ibunya. Sang Guru
hanya berkata, "Jika ibumu harus sembuh, maka ia akan sembuh karena
kebajikan. Sebab ibumu telah berbuat cukup banyak kejahatan di masa
muda nya"..

Sang anak merenung berjam-jam untuk mencerna kata-kata gurunya, namun
ia tetap tak mengerti apa maksud kebajikan yg dikatakan gurunya.
Keesokan harinya, seperti biasa si anak mencari kayu bakar di hutan.
Di tengah perjalanan turun hujan sangat deras. Si anak berlari-lari
mencari tempat berteduh. Ketika sedang berteduh, ia melihat
segerombolan semut di pinggir sungai setapak, dan segerombol lain di
seberang sungai yg tidak terkena hujan, dan segerombolan lg terhanyut
di tengah sungai tsb. Ia berpikir "Malang sekali semut-semut itu,
mungkin mereka mau menyeberangi sungai untuk berkumpul bersama
teman-temannya di seberang sungai yg tidak terkena hujan, tapi mereka
malah terseret air ke tengah sungai.." Si anak keluar dari tempat
berteduhnya, dengan berhujan-hujan ia mengambil sebatang kayu kecil
dan meletakkannya di antara sungai agar semut-semut itu bisa
menyeberang. Sementara semut-semut yang hanyut di sungai ia angkat
dengan bajunya dan ia letakkan di seberang sungai. Si anak tersenyum
senang saat melihat semut-semut itu menyeberang melewati batang kayu
yg ia taruh.

Dengan tersenyum ia pulang ke rumahnya, dengan baju yg basah kuyup..
Sampai di rumah, ia terheran-heran saat melihat ibunya sedang memasak,
padahal seharusnya ibunya tergolek lemah di tikar seperti biasanya.
Sang ibu berkata bahwa ia merasa sudah pulih. Sang anak memanggil
tabib dan tabib menyatakan ibunya sudah sembuh.. Sang anak baru
tersadar bahwa inilah yang dibilang sang Guru tentang kebajikan, yaitu
menyelamatkan hidup semut-semut tadi...

Teman-teman, kadang ada hal-hal yang membuat kita kesal dan benci,
pada diri sendiri, pada orang lain, bahkan pada Tuhan. Kita harus
tahu, bahwa mungkin, segala sesuatu yang menimpa kita, adalah buah
dari segala sesuatu yang pernah kita perbuat di masa lalu... Dan, apa
yg kita perbuat di masa kini, akan kita nikmati hasilnya di masa
mendatang.. Itulah Karma..
Seperti perjuangan si anak yang sangat mencintai ibunya, dan sang ibu
tersembuhkan berkat kebajikan anak yg sangat ingin ibunya sembuh..
Semut-semut itu adalah perantara kebajikan...

--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Friday, July 24, 2009

Harta Tanpa Mata

Wah, menghadapi kehidupan ini memang gampang-gampang susah.. Mungkin
teman-teman tau, bahkan punya pengalaman, bahwa harta tidak memiliki
mata. Orang yang memiliki harta berlimpah, dielu-elukan oleh saudara,
teman, bahkan masyarakat. Orang yang miskin, dijauhi saudara, diludahi
teman, diinjak-injak masyarakat... Nah saya mau membahas tentang orang
yang miskin ini...

Kalau mau lihat susahnya, ya memang susah, minta bantuan ke saudara
diacuhkan, minta kerjasama dengan teman dicibir, minta tolong pada
masyarakat ditertawakan.. Lalu kita harus bagaimana kalau ada di
kondisi seperti ini?
Ya, kita ambil gampangnya, peganglah prinsip "Percaya Pada Diri
Sendiri" jadi siapapun yang menjauhi atau menghina kita, kita bisa
katakan "Saya Tidak Butuh Kamu!
 Saya Baik-baik Saja Sendirian!"
Jadi, jangan pernah mengandalkan orang lain untuk membantu kepentingan kita..

Percaya dengan saya, sekalipun harta bukan segalanya, tapi kita butuh
harta untuk melakukan hampir segalanya, bahkan untuk membeli hati
sesama kita!

So, this is Life.. :)
--
Best Regards,

LIM ALBERT
Life Surfer...
http://limalbert.blogspot.com

Thursday, July 23, 2009

Membohongi Anak-anak (Humor Segar)

,Banyaknya anak kecil di rumah orangtua saya membuat saya teringat
kejadian-kejadian lucu di masa kecil, pd khususnya guyonan-guyonan
segar yg dulu waktu saya kecil saya anggap serius; seperti ini:
"jangan main sapu lidi malam-malam, nanti nyolok mata setan!" - masa
setan bisa dgn gampangnya dicolok matanya, hehe..
"jangan tengkurap dgn kaki diangkat ke belakang, itu artinya nyumpahin
orangtua mati!" - baru tau ada sumpah yg tidak perlu diucapkan, hehe..
"jangan nyapu malam-malam, buang rejeki" - bukannya malah membuang debu? Hehe..
"perawan jgn duduk di dpn pintu, nanti gak dapet pacar!" - apa
hubungannya yah? Hehe..
"kalo makan piring jgn yg gompal, dan banyak-banyak lah makan berutu
ayam, biar kelak istrimu cantik!" - makin gak nyambung kan? Hehe..

Yang paling parah, ada guyonan seperti ini:
"makan jeruk jgn ditelan bijinya, nanti tumbuh di kepala!" - ini
guyonan khas papa saya :)
"kalau batuk pilek, selama gak ada riak di hidung dan tenggorokan,
berarti kamu akan cepet sembuh!" - ya iyalah, kl gak ada riak berarti
lg gak batuk pilek donk, hehe..

Itu sekelumit guyonan siang dari saya, yg mungkin sebagian bisa untuk
mendidik anak Anda, sebagian lagi bisa untuk bahan lucu-lucuan :)
Selamat melanjutkan aktivitas Anda!,

--
Best Regards,

Lim Albert
http://limalbert.blogspot.com

Saturday, July 18, 2009

Jalan Terjal Menuju Puncak Gunung

Perjalanan waktu tak terasa berlalu begitu cepat.
Saya yang kemarin dulu masih lah seorang anak kecil, merengek minta
dibelikan kaset Gaban, sekarang malah sudah buka toko yg jualan
robot-robotan Gaban..
Saya yg kemarin dulu mengalami tangis saat putus cinta pertama di SMP,
sekarang malah sedang berpikir keras menghadapi pernikahan di depan
mata..
Saya yg kemarin dulu tertawa-tawa menghabiskan uang kiriman orangtua
di bangku kuliah, sekarang malah meratap mengais-ngais rejeki 12 jam
sehari...

Memang, jalan hidup tak ada yang tau. Semua orang boleh menerka dan
mengharap, namun penentu kemana hidup kita ini tertuju adalah putaran
nasib..
Sekarang ini, di saat saya tengah letih dan jenuh akan kehidupan, saya
mengibaratkan perjalanan hidup bagaikan sebuah perjalanan pecinta alam
yg mendaki gunung..

Di saat pendakian, pastilah sangat sulit, mempertahankan pijakan kaki
di antara tebing-tebing terjal, menahan haus dan lapar..
Menaiki satu demi satu bebatuan, yang mungkin saja saat hujan menerpa
menjadi sangat licin, dan kalau kita salah langkah, bisa menghantar
kita ke maut di kedalaman jurang hitam di sana..
Dalam perjalanan tsb, saya tetap diiringi doa orangtua, saudara,
sahabat-sahabat, yg tak jenuh memberi support dan bantuan.. Sedangkan
yang menemani adalah kekasih saya.. karena sesungguhnya memang kami
berdua hendak mencapai puncak itu bersama-sama.. Siapakah kekasih saya
itu? Dia adalah seseorang, yg saat saya haus, dia menuangkan air minum
utk saya; saat saya sakit, dia merawat saya; saat saya terluka, dia yg
mengobati saya; saat saya putus asa, dia yg mendoakan dan menguatkan
saya; saat saya sedih, dia yg berbagi tangis dgn saya... Hingga kaki
ini kembali kuat, kembali kokoh untuk melanjutkan perjalanan... Dan,
suatu saat nanti, saya yakin, saya akan memapah dia menuju puncak tsb,
puncak gunung kebahagiaan, dan menancapkan bendera tawa di sana..
Semoga.. :)

"Hampir ku tak kuat, hampir ku tak mampu.. Lewati jalan kering
berdebu.. Batinku meronta, letihku menggila, namun jarak masihlah
sangat jauh..." -Dimana, Iwan Fals-

--
Best Regards,

Lim Albert
http://limalbert.blogspot.com

Friday, July 17, 2009

Benarkah Keberuntungan Tergantung Takdir Semata???

Saya punya sebuah cerita...
Ini cerita Buddhist, tapi saya rasa maknanya bisa diresapi dan hikmah nya bisa diambil juga oleh temen-temen yang beragama lain :)


Dulu ada seorang pemuda, anak tunggal yang lahir di keluarga kaya...
Kekayaan itu berasal dari orangtua pemuda tsb yang memiliki beberapa buah toko kain tersebar di penjuru propinsi...
Jika ditaksir, kekayaan itu takkan habis dimakan 3 keturunan sekalipun..
Sang pemuda, diramalkan oleh seorang peramal, bahwa dia akan mewarisi seluruh kekayaan orangtua nya, dan ia akan hidup bergelimang harta sepanjang hidup...

Karena merasa ia memiliki takdir tsb, maka sang pemuda tak mau kerja,ia hidup menghambur-hamburkan uang orangtua nya dan berfoya-foya. Orangtuanya tidak bisa menasihati secara keras karena terlampau sayang pada anak satu-satunya..
Jika dinasihati oleh orang lain, ia selalu saja bilang, "Saya ditakdirkan kaya sepanjang hidup, meskipun saya berfoya-foya dan memanjakan diri setiap hari. Untuk apa saya bersusah payah bekerja? Haha.."

Suatu hari, karena sudah tua, sang ayah jatuh sakit kemudian meninggal..
sang ibu juga sudah terlampau tua dan tak sanggup lagi mengurus toko-tokonya..
Sang pemuda, tak bisa diharapkan untuk meneruskan usaha keluarganya..
Akhirnya sang ibu menutup seluruh usahanya, dan hidup dari tabungan keluarga yang selama ini dikumpulkan susah payah bersama suaminya..

Sang ibu jatuh sakit, harus menghabiskan uang banyak untuk berobat..
Sementara pemasukan tidak ada, pengeluaran sangat besar untuk biaya pengobatan..
Belum lagi sang pemuda yang masih saja belum sadar dan terus hidup berfoya-foya..
Akhirnya sang ibu meninggal dunia..

Uang tabungan yang banyak sekali lama kelamaan habis karena ulah si pemuda, rumah dan harta benda sudah dijual, dan mulailah ia berhutang.. Jika ditagih oleh pemberi hutang,ia selalu berkata, "Tenanglah! aku ditakdirkan kaya raya sepanjang hidup! aku pasti akan mendapat keberuntungan! nanti kalau keberuntungan itu datang, kukembalikan uangmu 10x lipat!"

Semakin banyak ia berhutang, semakin banyak ia tak membayar hutang-hutangnya, dan tak ada lagi yang percaya padanya..
Hingga lama kelamaan ia kehabisan uang, tak tau apa yang harus dikerjakan..
Dengan perut kelaparan, kerjanya hanya tidur setiap hari..
Ada seorang tua pengangkut sampah yang menghampirinya dan berkata, "Ikutlah aku, bantu aku mengangkut sampah dan akan kuberi kau uang 5 keping setiap hari..."
Sang pemuda menjawab, "Enyah kau orang tua! aku orang kaya, aku orang beruntung, ayahku pengusaha ternama, dan kini kau ingin aku mengangkut sampah?"
Lalu ia kembali tidur...

Esoknya, ada seorang bikkhu yang menghampirinya, "Anak muda, baiknya engkau membantu aku menyapu dedaunan kering di halaman kuil, daripada hanya tidur.. Akan kuberi kau makan setiap hari"
Sang pemuda menjawab, " AKU DITAKDIRKAN KAYA SEUMUR HIDUP! kau ingin aku menyapu kuilmu??"

Tak lama, sang pemuda meninggal karena kelaparan...

Ia dihadapkan ke raja neraka, dan ia marah-marah di hadapan raja neraka..
"Raja neraka, aku protes!!"
"Apa yang kau proteskan, anak muda?"
"Aku ditakdirkan menjadi orang kaya seumur hidup, bagaimana mungkin aku mati karena kelaparan??"
"Itu salahmu sendiri, saat seorang pemungut sampah mengajakmu bekerja, kau tidak mau, padahal jika kau ikuti dia dan bekerja padanya, kelak kau akan menemukan seorang pengusaha limbah plastik yang kaya raya, dan dia akan mengangkatmu anak"
"Aku anak seorang pengusaha kain terkenal, bagaimana mungkin aku menjadi pengangkut sampah? Aku tetap tidak terima! Mengapa tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik?"
"Itu juga salahmu, waktu seorang bikkhu mengajakmu menyapu halaman kuil, kau tidak mau, padahal jika kau mau, kelak kau akan temukan harta karun emas di bawah akar pohon di halaman kuil itu.."
"AKU TETAP TIDAK TERIMA!! Aku harusnya kaya raya tanpa perlu bekerja!"
"Baiklah, sekarang kau akan bereinkarnasi, kau mau jadi apa?"
"Aku mau bisa makan tidur sesukaku, aku tak mau mati kelaparan, dan aku tidak mau bekerja pada siapapun!"
"Baiklah!"

Lalu sang pemuda bereinkarnasi dan menjadi seekor babi.

Bagaimana teman-teman, masihkah kita harus percaya bahwa keberuntungan tergantung takdir semata??


by Lim Albert
Life Surfer..

Wednesday, July 15, 2009

Memberi Obat atau Membiarkan

Ada kalanya kita menemui seseorang yang sedang sakit, dan ia memohon kita memberi obat untuk kesembuhannya.. Kita memiliki obat yg dimintanya, tapi kita tahu, bahwa obat tersebut memiliki efek samping, yaitu tidak akan menuntaskan penyakit sampai ke akarnya, dan jika sampai penyakitnya kambuh, penyakit itu akan makin menggerogoti tubuhnya lebih dahsyat lagi..
Lagipun, jika sampai penyakitnya kambuh, ada kemungkinan orang-orang di dekatnya akan tertular, termasuk kita..
Lalu apa yang harus kita perbuat? Memberikan obat itu, atau membiarkan saja orang tersebut dengan sakitnya?
Pilihan sulit seperti ini baru saja saya alami hari ini, dan saya rasa saya telah membuat pilihan tepat, yaitu tidak memberikan obat itu. Meskipun ada sedikit sedih dalam hati saya, melihat orang yang sangat mengharapkan obat tersebut menjadi kecewa, bahkan menjadi marah kepada saya, bahkan mungkin akan sulit memiliki keeratan hubungan lagi dengannya..
Tapi bagaimanapun, pilihan sudah diambil, dan segala konsekuensi harus diterima..
Jika teman-teman diberi pilihan seperti di atas, yang manakah yang akan teman-teman pilih? ;)

by Lim Albert
Life Surfer..

Monday, July 13, 2009

Blogging Membawa Bendera Nama Sendiri :)

Pertama kalinya, saya blogging, dengan mengusung subdomain dengan nama sendiri...
Awalnya terpikir dari notes-notes yang sering saya buat di facebook, lalu tercetuslah ide untuk membuat notes-notes tentang kehidupan saya di blogspot ini, yang mudah-mudahan bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi Anda, teman-teman tercinta.. :)